aku menghindar dari khalayak ramai dan mengembara dilembah luas itu. kadang kala mengikuti jalan arus dan ada kalanya mendengarkan percakapan burung. pada akhirnya aku mencapai sebuah tempat yang dilindungi oleh dahan-dahan dari matahari. aku duduk disana bencengkrama didalam kesendirian, bercakap-cakap dengan jiwaku. kehausan jiwaku menyaksikan semu yang tampak dalam khayalan belaka dan semua yang tampak dalam danau. kala pikiranku kosong, bebas dari sangkar persoalan untuk membumbung tinggi kelangit khayalan, aku melihat seorang dara berdiri tak jauh dariku, seorang bidadari tanpa permata atau hiasan kecuali ranting pohon angur yang denganya dia menutupi bagian tertentu dari tubuhnya. sebuah mahkota dari bunga matahari melingkari rambut emasnya. takala dia tersadar akan pandanganku, aku terpaku, terkejut dan keheranan. dia berkata ,"aku putri hutan belantara, maka jangan takut,"
aku membalas meskipun kemanisan nafasnya telah menarik nafasku,"apakah seorang sepertimu mendiami tanah tandus dan tempat hewa-hewan buas ini?." katak padaku siapa kau sebenarnya,"
dia duduk diatas rumput dan berkata ,"aku lambang alam, aku perawan keindahan yang dipuja ayah-ayahmu." aku bingung dan berkata,"apa maksudmu keindahan?."
dia membalas,"akulah keindahan, kecantikanku bergantung dari yang kau lihat kemanapun engkau mengalihkan matamu. keindahan adalah alam dalam keseluruhanya. keindahan adalah awal kebahagian pengembala ditengah perbukitan, bagi sibijak keindahan adalah tangga menuju tahta kebahagian yang tidak luka.
aku bicara tapi lidah tak memahami yang diucapkan ,"keindahan adalah kekuaan yang mengrikan dan dahsyat.
semerbak bunga ada pada bibirnya dan rahasia kehidupan tersimpan dimatanya ," engkau lelaki yang takut akan segala hal, bahkan dirimu sendiri. kau takut angakasa meskipun itu sumber keselamat, kau takut akan alam meskipun itu tempat pembaringan.
sejurus kemudian keheningan dikuasai impian ,"apakah keindahan itu? orang membedakanya dalam berbagai definisi dan pengetahuan mereka tentang keindahan itu sebagai mana membedakan tentang bagai mana mereka memuji dan mecintai.
".keindaha adalah apa yang tergambar dalam gambaran jiwa, kau berhasrat memberi, bukan menerima. saat kau berjumpa dia dengan tangan terulur, kau akan menariknya dalam kedalaman jiwa. tubuh menghitung penderitaanya, tapi jiwa menghitung keanggunanya. dia dalah gabungan dukalara dan kebahagian. dia adalah apa yang kau saksikan meskipun tersembunyi, apa yang kau kenal meskipun tak dikenal, apa yang kau dengar meskipun bisu. dia adalah kekuatan yang terangkat dari kekudusan tertinggi, dari hakekatmu dan berakhir disebrang imajinasimu.
putri hutan itu meletakan tanganya dimataku dan kalaku membukanya kudapati aku seorang diri dilembah itu. ketika aku pulang jiwaku berdendang ,"kala kau melihat keindahan, kau berhasrat memberi, bukan menerima.